bebas

Saturday, 10 September 2016

Drama: Lucky Romance- Genuine Love from Je Soo Ho


  • Drama: Lucky Romance 
  • Network: MBC
  • Episodes: 16
  • Release Date: May 25 - July 14, 2016
Cr: asianwiki

Awalnya enggak tertarik nonton drama ini karena disebabkan satu dan dua hal salah satunya adalah si pemeran utamanya enggak ganteng. Duh sebenarnya itu alasanku yang dibuat-buat sih karena biasanya aku tetap nonton asal ceritanya bagus. Ada sebuah akun twitter tentang drama Korea dan dari situlah aku penasaran dengan Lucky Romance. Drama ini adalah tentang dua orang yang  berpegang pada kepercayaan dan logika
Shim Bo nui dan Je Soo ho

Bercerita tenta Shim Bo Nui yang sangat percaya dengan peramal dan menganggap dirinya pembawa sial sehingga membawa barang-barang dan jimat tolak bala kemana-mana yang ditawari kerja di ZEZE Factory. Hal itu terjadi untuk mengembangkan game baru setelah game utama yang akna diluncurkan diretas oleh mantan karyawan.  Je Soo Ho, si jenius yang juga pimpinan ZEZE Factory,  ternyata sejak awal sudah bertemu secara tidak sengaja dan tidak menyenangkan dengan Shim Bo  Nui. Je Soo Ho dengan tingkah kekanak-kanakannya menjadi sasaran Shim Bo Nui untuk jadi ‘teman semalam’ karena lahir di tahun macan demi menyembuhkan adiknya yang sakit.
Demi ngejar Shim Bo nui, Je Soo Ho sampe terbang segala

Di sini suka banget sama Je Soo Ho yang enggak mau jadi ‘teman semalam’ tapi peduli banget sama Shim Bo Nui. Belom lagi cara menjadi ‘teman semalam’, mereka lucu banget dan bukan seperti yang kita bayangkan hehehe. Perubahan sikap Je Soo Ho yang gelisah karena merasakan cinta –ecie- terlihat so sweet banget deh.
Pasangan penghalang nih 

 Je Soo Ho  bersaing dengan teman masa kecil Shim Bo Nui yaitu Gary Choi si atlet tenis model game terbaru mereka. Persaingan yang lucu dan bikin ngakak sebenernya, apalagi pas Je Soo Ho minta saran Ryung Ha tentang Bo Nui widih mereka lebai banget. Je Soo Ho begitu tau Shim Bo Nui telpon, bukannya diangkat malah heboh sendiri guling-guling terus habis itu sok tenag ngangkat telpon. Pas awal-awal ngebales chat Shim Bo Nui pake emoticon yang nggak biasa dan banyak itu jadi bikin speechless banget sampe dimarahin Ryung Ha.

Berusaha menyangkal kalau deg-degan ketemu gebetan

Lagi-lagi aku tertahan di episode 12 karena merasa cerita setelah itu enggak gitu aku harapkan sih. Sukanya di bagian klimaks aja udah. Meski begitu aku menyeesaikan sampe episode 16 tapi aku skip-skip sih. Drama ini termasuk yang rekomen buat yang mau ngakak geli nggak karuan liat kelakuan cowok jenius mengalami first love di usia matang. Enjoy watching gengs.

Wednesday, 8 June 2016

Webtoon Lookism: Perubahan saat menjadi Rupawan


Cr:webtoon LINE 



Beberapa postingan terakhir di blogku tuh kok  judulnya panjang2 ye..semoga pada enggak bosen dan kesel bacanya. Langsung saja ke inti ya. Aku senang sekali baca webtoon, salah satu favoritku adala Lookism ini. Pertama tertarik dengan Lookism tu dari tagline atau sinopsis singkatnya “Bagaimana jika suatu hari kamu bangun dan mendapati tubuhmu menjadi seperti seorang idol?”khaan penasaran banget itu cerita tentang apa ya kok bawa2 idol secara tiba2, kaya dibawa ke alam imajinasi bgt.
Cr webtoon LINE 

Webtoon ini bercerita tentang Park Seok yang gendut dan pendek yang sering dibully karena posturnya. Bahkan saat ibunya membela, Park Seok yg merasa malu sekali malah memarahi ibu yg membelany. Kisah ini berawal dari situ, dari pelarian Park Seok terhadap ibunya. Park Seok merasa telah melukai ibunya, maka dengan bekal persiapan seadanya, dia meninggalkan rumah. Tidur di sebuah kos kecil. Park Seok mengeluhkan hidupnya yg selalu dibully dan berpikir seandainya dia terlahir rupawan. Keesokan harinya saat bangun, Park Seok kaget mendapati tubuhnya atletis dan melihat tubuh lamanya ada di situ juga. Dia berusaha tidur lagi lalu bangun tapi tetap tidak bisa. Akhirnya dia ke sekolah dengan tubuh dan wajah idol.
Cuma gaya gini doang tapi reaksinya
Huwaa

Lebaay banget


Di sekolah Park Seok disambut tatapan kagum dari warga sekolah termasuk orang-orang yang membullynya, bahkan Jin sang ketua pembullyan menjadi iri karena Park Seok membuat Jimin, gadis yg disukainya, terpesona. Jin menantang berkelahi tapi Park Seok bisa menghindari tinju kecepatan tinggi Jin. Sejak saat itu mereka berteman. Park Seok selalu mendekati teman-teman yg mengalami pembullyan, cupu dan tidak populer. Hal itu menyebabkan pandagan kaum lemah tersebut beruubah terhadap orang2 rupawan. Meski begitu ada juga yg mencibirnya. Park Seok digosipkan sebagai pemuda yang miskin karena pakaiannya yg tidak stylish, tapi dirinya tak pernah mendengar gosip tersebut hanya memang dia mengalami kesulitan menemukan baju yg pas.
Zin, Jaeyeol, Park Hyung suk trio yg bikin iri para pria lookism

Suatu hari teman sekelasnya bernama Jae Yeol ingin memberikan pakaian bekas miliknya utk Park Seok. Park Seok kaget saat baju bekasnya itu ada dalam 3 tas besar, terlebih pakaiannya termasuk baru. Namun dalam hati dia lega karena tak perlu susah2 mencari baju yg pas utk tubuhnya yg ini. Saat teman2 masih mempergunjingkan Park Seok, tiba2 dia datang dengan pakaian pemberian Jae Yeol. Mereka terpesona dan setelah dirinci, pakaian  termasuk aksesoris Park Seok itu bermerk serta mahal. Wkwk, Park Seok mah polos aja tapi yg lain ribet sendiri ngomentarin stylenya.
Park Seok ini bisa berpindah ke tubuh lainnya saat tubuh yang ini tertidur atau tak sadarkan diri, seperti saat kejadian dia mabuk. Lalu saat tubuh yang bagus istirahat, malamnya Park Seok gendut bekerja shift malam tanpa merasa kelelahan. Dia benar2 sudah bisa mengontrol kedua tubuhnya.
Webtoon ini lucu dan mengharukan sih, memang ilustrasinya dewasa banget tapi aku suka banget ceritanya. Saat ini sudah chapter 56 di mangafox, kalau di webtoon line masih 20an. Selain nyeritain Park Seok, webtoon ini juga nyeritain teman2 sekolahnya beserta permasalahan khas anak SMA disana. Terkadang pengen webtoon ini dibuat versi drama kayak Misaeng, Orange Marmalade atau Cheese in the Trap. Tapi yang buat kudu TVN biar bagus haha. Ya sudah, sekian dulu ya dan selamat membaca webtoon ini.

Monday, 6 June 2016

Drama Signal


Drama Signal
Sebenarnya nggak ada niatan untuk nonton drama ini karena akhir Februari lagi nunggu-nunggu Descendant of the Sun. Aku memutuskan nonton drama ini karena ada rekomendasi dari akun twitter drama  apalagi drama ini produksi tvn yang pasti tak diragukan lagi kualitasnya. Meski sempat kecewa dengan ending Cheese in the Trap, aku nggak kapok untuk ntn drama tvn.
Spoiler yang sempat aku dapat dari drama Signal sebelum aku tonton adalah tentang dua orang detetif yang saling terhubung dengan alat komunikasi transmisi radio atau kalau jaman sekarang walkie talkie/ HT. Detektif yang berbeda tahun bisa berkomunikasi itu sungguh-sungguh tidak masuk akal tapi yang imajinatif begini yang aku suka. Kalau seri reply masih masuk akal dengan flashbacknya, tapi kalau yang ini bisa beda tahun dan saling bantu memecahkan kasus.



Bercerita tentang Park Hae Young yang sangat membenci polisi tapi justru jadi detektif di kepolisian dan atasannya yaitu detektif Cha Soo Young  yang belum move on dari detektif Lee Jae Han. Park Hae Young benci polisi karena merasa diperlakukan tidak adil sewaktu kecil, salah satunya di kasus penculikan teman sekolahnya. Saat itu polisi mempercayai bahwa penculiknya seorang mahasiswa laki-laki tapi Park Hae Young melihat yang menjemput temannya adalah perempuan. Saat berusaha melapor ke polisi, dia tidak dihiraukan. Begitupun di kasus yang menimpa kakaknya, Park Hae Young yang meyakini bahwa kakaknya tidak bersalah nyatanya tidak mampu berbuat apa-apa.
Suatu hari saat hendak mengeluarkan mobil dari parkiran kantor polisi, mobilnya terhalang mobil pengangkut barang . Dari situlah dia mendengar suara Lee Jae Han  melalui transmisi radio. Transmisi radio itu terdapat pada kantung plastik bercampur dengan barang-barang yang hendak dimusnahkan. Karena penasaran, transmisi radio (HT aja ya) dibawanya pulang. Ternyata sambungan itu berasaldari Lee Jaehan yang menemukan bukti kasus yang belum terpecahkan. Berkat hubungan HT itu, terkuaklah pelaku sebenarnya dari kasus penculikan 15 tahun yang lalu. Sejak saat itu, Park haeyong masuk dalam divsi khusus kepolisisan untuk menyelidiki kasus dingin. Kasus dingin adalah kasus yang sudah berlangsung lama tapi belum terselesaikan karena kurangnya bukti serta adanya penghentian penyelidikan.

Simbiosis mutualisme Lee Jae Han dan Park Haeyong menimbulkan masalah tatkala masa depan berubah sebagai akibat dari penyelesaian kasus di masa lalu. Selain itu, ada beberapa orang yang dengan mengejutkannya memiliki peran di masa lalu dan menghilang di masa depan.
Drama ini sangat seru dan recomended untuk ditonton karena misteriusnya hubungan Lee Jaehan dan Park Haeyong serta penyelesaian kasus yang cerdas. Aku yakin bahwa dengan menonton drama ini, kalian akan diliputi rasa penasaran untuk tetap melanjutkan menonton. Bagiku, ini drama yang membuatku antusias untuk nonton smp eps terakhir. Selama ini aku suka nontong sampai di tengah jalan aja seperti She Was Pretty, Sassy Gogo dan terakhir aku nonton Oh my venus.
Oke, sekian tentang drama Signal, lain kali bertemu di drama selanjutnya.

Break time at Roemi




Kali ini kulineran aku berada di semacam kafe gitu. Dulunya game center dan aku masih bisa merasakan kenangan itu bangkit kembali halah. ceritanya mau ketemuan sama temen dan aku memutuskan tempatnya yang Deket lokasi kerja gitu.
Saat menunggu, yg membuatku nggak nyaman sih bau rokoknya. untungnya temanku sudah datang sehingga kita bisa berpindah ke meja yg nggak terlalu kecium bau rokok. Meja kami yg ini deket etalase kue gitu sehingga pemandangan lebih manis.

Java Single Pancake

Kita segera memilih menu karena waktu istirahatku cuma satu jam , berasa main runningman ini mah. Aku sejak awal sudah ngincer satu menu eskrim yg nyindir banget eh yg bikin pengen banget. Nama Menunya Java single pancake (kalau nggak salah inget). Begitu aku utarakan menunya, sontak si Galuh berkelakar jahil, sama seperti pikiranku sih haha.
Kalau Galuh pilih menu eskrim yang aku lupa namanya tapi tahu sajiannya.


Giliran Java single pancake nih. Satu scoop eskrim coklat di atas pancake kecil bingit yg dikasih topping Cherry sebiji. Lumayan enak kok, aku sih rekomen ini. Lalu ternyata kita merasa lapar meski memang enggak terlalu tertarik dengan Menunya karena mahal dan entah lah kurang tertarik aja. Meski begitu, kami tetap melakukan pemesanan nasi goreng Eskrimnya Galuh ini terdiri dari satu scoop eskrim vanila yg dikasih perasan jeruk dan jeruk nipis kalau g salah inget sih ada madunya. Kalau dilihat dari ekspresinya sih dia enggak suka. Aku juga nggak suka sih begitu nyobain.


Aku memesan nasi goreng jala. nasi goreng dengan jamur, ayam dan sayuran yang digulung dengan dadar telur berongga tapi lebih mirip dadar tepung berongga.


Kalau Galuh pesen nasi goreng keju. Kejunya yang di atasberupa parutan dan yang di dalam berupa potongan kecil lembaran.
Menurut kami harganya mahal sih. Ya maklum aku bukan anak kafe hehe. Next destination ditunggu saja dengan pengalaman yang tak kalah seru.



Saturday, 14 May 2016

Review Novel: Pria Impian di Sebelah Rumah

Judul asli: The Guy Next Door
Penulis: Meg Cabbot
Tebal : 560 hal
Tahun terbit: 2002, 2003 (Indonesia)
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Ingatkah kalian bahwa aku sudah membaca Perang Melawan Bos Tiran? Seharusnya judul ini dulu yang harus dibaca jika melihat tahun terbitnya. Namun, tidak masalah karena bukan jenis cerita kelanjutan tapi ada karakter di novel Perang Melawan  Bos Tiran yang muncul di sini. Kemungkinan hal tersebut terjadi karena kesamaan latar cerita yaitu di kantor The New York Journal.

Novel ini bercerita tentang penulis di koran The New York Journal pada kolom berita Page One yang berisi tentang dunia hiburan, bernama Melissa Fuller. Mel, begitu panggilannya terkejut saat mendapati tetangganya bernama Ms. Friedlander, seorang wanita tua yang tinggal sendirian, tak sadarkan diri akibat sebuah penyerangan. Tetangganya tersebut mengalami koma dan Mel harus mencari walinya agar dapat mengurus hewan-hewan peliharaan Ms. Friedlander. Tentu atas bantuan kawan-kawannya di tempat kerja, Mel bisa menghubungi Max Friedlander sang keponakan yang terkenal sebagai fotografer playboy. Sayangnya, Max tidak ingin mengurus neneknya tersebut sehingga meminta temannya bernama John Trent yang seorang wartawan koran saingan Mel yaitu The New York Chronicles sekaligus anggota keluarga kaya Trent.

Kisah cinta muncul di balik penyamaran John Trent menjadi Max Friedlander. Selain itu pembaca dibuat penasaran dengan pelaku penyerangan yang diduga pembunuh berantai pesolek yang sedari awal cerita sering dikemukakan. Tapi sudah bisa ditebak kok pelakunya seiring dengan berjalannya cerita dan penggambaran karakter tokohnya. Beberapa kesamaan dengan novel Perang Melawan Bos Tiran selain latar tempat juga mengenai tokoh utama yang punya sahabat karib yang selalu pengen tahu dan peduli bernama Nadine Wilcock (kalau di PMBT Jen Sadler), atasan yang gengges bernama George (di PMBT Amy Jenkins), mantan yang gagal move on bernama Aaron Spender (di PTMB Dale Carter) serta keluarga kaya tapi bermasalah dari si cowok bernama John Trent (di PMBT keluarga Hertzog, yang ternyata masih ada hubungan dengan Trent karena Stacey Hertzog adalah istri Jason Trent yang merupakan kakak John Trent) yang suka mengurusi kisah percintaan tokoh utama pria.

Novel ini lebih tebal tapi jujur aku lebih suka yang PMBT karena variasi media penceritaannya. Kalau di sini hanya lewat email saja tapi ringan lucu khasnya Meg Cabbot. Tidak hanya merk makanan dan restaurant yang disebutkan di sini tapi gosip artis di masa itu juga dimunculkan untuk menguatkan pekerjaan si tokoh utama sebagai kolumnis gosip. Ada sisi menyenangkannya juga yaitu  bisa membaca gosip dari sudut pandang penulis serta sedikit tahu seluk-beluk pekerja surat kabar. Kalau ditanya benang merah, aku rasa ada pada kasus penyerangan Ms. Friedlander tapi suguhan kisah cinta Mel dan John terlalu banyak.

Review novel: Boy Meets Girl (Perang Melawan Bos Tiran)

Review Novel: Perang Melawan Bos Tiran
Judul asli : Boy Meets Girl
Penulis : Meg Cabbot
Tebal buku : 495 hal
Tahun terbit : 2004, 2006 (Indonesia)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Sudah sekian lama aku tidak baca novel dan baru beberapa waktu ini tergerak bahkan untuk mereviewnya juga. Aku memilih novel karya Meg Cabot di tahun 2004 yang dipublish di Indonesia tahun 2006, artinya ini adalah novel sepuluh tahun lalu. Mungkin beberapa orang akan merasa bahwa ini novel jadul tapi marilah ambil positifnya karena kita bisa bernostalgia di dalamnya. Lagipula novel ini membuatku bisa menyisihkan waktu untuk membacanya selama tiga hari saja, berarti ada sesuatu bahkan lebih dari novel setebal 495 halaman ini yang menarik perhatianku.
Novel ini bercerita tentang Kate Mackenzie, staff HRD di koran The New York Journal, yang mengalami dilema setelah dipaksa memecat Ida Lopez yang merupakan karyawan penyedia kudapan yang tidak mau memberikan pai tambahan kepada Stuart Hertzog yang notabene adalah konsultan pengacara di kantor surat kabar tersebut. Masalah Kate tidak hanya itu saja tapi juga dengan mantan pacarnya, Dale Carter, yang masih mengejarnya tapi tak mau berkomitmen dengannya. Belum lagi kesulitannya mencari rumah di New York yang biaya sewanya rendah sehingga dia tidak perlu menumpang di rumah sahabatnya yaitu Jen Sadler.
Permasalahan dengan Ida Lopez semakin rumit tatkala ada pengajuan tuntutan dari yang bersangkutan kepada kantor Kate mengenai pemecatannya. Disinilah Kate bertemu Mitchell Hertzog, adik Stuart Hertzog yang juga pengacara, yang dipilih untuk menjadi pembela kantornya. Kate yang membenci sikap para pengacara, terutama Stuart Hertzog yang arogan dan diapun meyakini bahwa Amy Jenkins yang adalah atasannya di HRD memaksanya memecat Ida Lopez juga karena pria tersebut, menjadi sedikit luluh dan terpesona pada Mitch yang digambarkan tampan oleh sang penulis.
Meg Cabot tidak hanya menceritakan tentang Kate dan permasalahan kantornya terutama dengan atasannya, Amy Jenkins, yang menjadi inti dari novel ini, tapi kekisruhan keluarga Hertzog juga cukup seru diikuti. Mulai dari Stuart si anak tertua pewaris kantor pengacara ayahnya yang licik orangnya, Stacey anak kedua yang sudah berkeluarga sebagai penengah keluarga besarnya, Mitch si anak ketiga yang tampan dan berjiwa sosial dan Janice yang ingin dipanggil Sean karena krisis identitasnya, belum lagi Margaret Hertzog sang ibu yang pilih kasih serta Arthur Hertzog sang ayah yang sedang keliling dunia untuk refreshing tampak abai dengan keluarganya.


Uniknya dari novel ini, penceritaannya tidak ditulis secara konvensional seperti ada tanda apostrof jika melakukan percakapan langsung, tapi lewat email, instant messenger  dan voicemail. Meski awalnya agak aneh tapi aku bisa mengikutinya dan itu asyik. Lalu disini kita diajak merasakan suasana kantor The New York Journal  melalui beberapa surat peringatan untuk karyawan, memo perusahaan, pernyataan persona non grata, serta transkrip interaksi karyawan. Tidak lupa ada bagian Kate menuliskan catatan pribadinya yang tentu saja nyambung banget dengan lanjutan percakapan email atau cara penulisan lainnya. Ada juga monolog Kate yang ditulis Meg Cabot di sela-sela Kate memilih menu di sebuah restaurant dan itu pasti ada. Lalu untuk percakapan dengan Ida Lopez, wanita tua baik hati itu selalu menyelipkan resep kudapannya untuk Kate.


Sejujurnya novel ini menceritakan dunia perkantoran yang hampir sering ditemui di sekitar kita dengan pengemasan yang sangat menarik serta  gaya penceritaan Meg Cabot yang ringan dan lucu. Meski terkadang memang agak sulit dimengerti kenapa Mitchel Hertzog begitu menyukai Kate Mackenzie. Seharusnya ada penjelasan panjang tentang kisah mereka berdua tapi seperti yang kukatakan sebelumnya bahwa benang merahnya adalah tentang Kate Mackenzie dan si PTK (Penguasa Tirani Kantor) yaitu bosnya sendiri di HRD, Amy Jenkins.


Wednesday, 11 May 2016

Makan di Raminten

Percaya atau enggak sih terserah tapi selama aku les di sebelah cafe Raminten, terhitung dr SD hingga SMA, aku belum pernah ke Raminten. Wajar sih mengingat uang saku masa kecil yg hanya cukup untuk jajan di depan pagar tempat les atau lari ke depan masjid Syuhada. Tuh kaan jadi nostalgia pas les pernah bolos pulak. Namun, saat ini yang ingin kubicarakan adalah pengalaman pertama makan di Raminten. Oke silakan kalau mau bilang aku ketinggalan jaman, gak gaul, kismin (becanda ding) tapi inilah kenyataannya.

Siang itu hari Senin, masih ingat banget karena niat mau ke toko buku buat beli sebuah buku pegangan masa depan, lalu lapar melanda. Seperti biasa, kalau keluar rumah tu pasti wajib jajan (aku aja sih, yg lain terserah ya). Lalu ingatlah aku tentang seorang teman yg emang suka baca buku. Yups aku ajak Tari ke toko buku. Selain melihat2 dan membeli buku yg emang aku rencanakan, kami juga mengincar beberapa buku utk dibeli setelah nantinya berhasil mengumpulkan uang. Tibalah saatnya kami pulang, lalu berlanjut dg kebingungan menentukan tempat makan. Dipilihlah Raminten karena aku blm pernah dan Tari udah pernah.

Sesampainya di Raminten, kami dimjnta menunggu sebentar utk dicarikan tempat. Raminten sedang ramai bgt saat itu maklum jam makan siang. Akhirnya kami diantar ke lantai 2 yg emang pilihan kami. Lalu kami menentukan menu yang akan disantap. Taraaa..akhirnya inilah pesanan kami.
Nasi kucing pakte doble
Sate jamur
Sate keong
Mendoan
Dua es yang aku lupa namanya.
Pesanan datang...kita bahas nasi kucing pakte doble. Nasi kucing dengan 2 nasi yg dicetak ditambah taburan bawang goreng di atasnya plus telur dadar super tipis. Nasinya banyak dan cukup untuk dikatakan mengenyangkan. Sayangnya yg doble cuma nasinya, telurnya tetap satu begitupun porsi oseng tempe serta pasangan sambel dan teri. Entah emang aku yg menyisakan nasi atau merasa kurang dengan lauknya yang menyebabkan masih sisanya nasi. Untungnya ada mendoan dan sate jamur. Harga nasi kucingnya Rp 3000,-

Kita bahas sate jamur pesananku yaa. Sate jamurnya enak, bumbunya meresap ya meski satenya enggak anget sih. Aku beli 3 siapa tau Tari mau nyicip. Warnanya pucat dan potongannya kecil-kecil. Beruntungnya jamur ini tidak liat. Teksturnya yang sedikit kenyal mengingatkanku dengan sate usus. Bumbunya mirip sih.

Lalu pesanan Tari adalah sate keong. Warnanya coklat dan tampilannya menggiurkan dengan potongan yg lebih besar dibanding sate jamur. Tapi aku g bisa memakannya karena terlalu liat. Entah kenapa aku merasa sate keong ini kurang sip. Selain liat, bumbubya jg kurang meski warna coklatnya lumayan memprovokasi. Ya itung2 udah pernah nyobain sate keong. Sate keong dan sate jamur per tusuk harganya Rp 2000,-

Selanjutnya pesanan yang ditunggu2 tiba, pesanan yang cukup terkenal dan recomended, pesanan itu berjuluk mendoan. Tiga buah mendoan persegi panjang yang tipis berbalut renyahnya tepung goreng, benar2 menggugah selera. Begitu digigit terdengar bunyi "kreus"lalu disambut oleh indra perasa yang memberi sinyal uenaak pada setiap kunyahan. Diakui memang mendoan ini juaranya dari makanan yang kita pesan. Harga 3 buah mendoan (ini udah dipaket 3 biji) Rp 8000,-.

Sudah waktunya minum. Aku lupa nama minumanku yang jelas hampir mirip sup buah tapi cuma ada buah nanas dan semangka apa ya kalau gak salah. Rasanya enak dan manis tapi kurang aja buahnya. Harga minuman pilihanku Rp 13.000,-
Minumannya Tari, aku juga lupa namanya, teksturnya seperti jus melon yang busanya ditaruh di atas ditambah taburan meses. Jus melonnya terasa juga meski aku harus susah2 menebaknya. Harganya 11.000.
Nah itu dia menu yang sudah kita pesan dan bikin kenyang. Semoga bisa menguatkan dalam melanjutkan kehidupan. Kita tak pernah sendiri, kalau mau makan ajak2 aja biar rame dan senang haha. Sampai jumpa lagi di edisi kuliner selanjutnya.

*note: aku makan ini dan nulis ini udh setahun yg lalu tepatnya Juni 2016.